MAPETALA UNIB | Suara Kita "ASAP...!!!" | Saat ini kondisi Indonesia di selimuti Asap yang berasal dari Jambi, Riau, Sumatera Selatan Dan Kalimantan. Asap ini bukan Bencana, tapi ini Kejahatan Kemanusiaan serta kelalaian pemerintah dalam mengawasi kawasan hutan terutama kawasan hutan yang berada di lahan konsesi perusahaan. Kenapa Asap kami katakan sebuah Kejahatan Kemanusiaan..?? karna 99% kebakaran lahan ini disebabkan oleh ulah manusia yang tidak bertanggung jawab, dan hanya 1% yang diakibatkan oleh alam. Kebakaan hutan yang menghasilkan asap ini bukan hanya terjadi di tahun 2015 ini saja, namun hampir setiap tahun kebakaran lahan terjadi, dan sudah ada fakta di lapangan bahwa ada beberapa perusahaan yang dengan sengaja membakar lahan untuk kepentingan mereka dan pemerintah tau akan hal itu namun lamban dalam menanganinya.
Dikutip dari media Cuma Kita, berdasarkan pemaantauan Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Sumatera Selatan bahwa titik-titik api berada di wilayah konsesi perkebunan skala besar maupun Hutan Tanaman Industri. Jika pada 2014 titik api yang ditemukan di kawasan hutan yang dibebani hak hutan tanaman (IUPHHK-HT) sebanyak 4.084 titik api di 150 konsesi dan 603 titik api di 85 konsesi perusahaan (IUPHHK-HA). Data yang diolah Walhi Sumsel dari berbagai sumber menunjukkan pada 2015 ada 383 titik api di hutan tanaman industri dan 426 titik di konsesi perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan.
Selain itu, data titik api yang dimiliki oleh WALHI Jambi juga membuktikan bahwa 80% titik api berada di konsesi perusahaan perkebunan dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Pada tahun 2002 hingga 2010 titik api di lahan gambut di Kabupaten Muaro Jambi, Tanjabtim dan Tanjabbar mencapai 414 titik. Sekitar 102 titik api tersebut berada di lahan gambut areal hutan tanaman industri (HTI) dan 312 titik api berada di areal perkebunan kelapa sawit. Kemudian dalam kurun Januari 2014 – Agustus 2015 di Jambi sudah menunjukkan 1300 titik api (hotspot). Angka ISPO sudah mencapai 324, angka level sangat membahayakan (very danger) bagi kesehatan.
Sama hal nya di provinsi Riau, data titik api terbaru saat ini berjumlah 185 dengan 51 titik berada di HGU, 48 titik di HTI, 43 titik di protected area, 35 titik di Teso Nilo, dan 8 titik di Bukit Batabuh . Data ini merupakan data yang dimiliki oleh WALHI Riau.
Sungguh tragis bukan, sudah sejauh ini namun belum juga ada tindakan pasti yang akan dilakukan dalam menangani persoalan asap di Indonesia ini. Sampai saat ini juga perusahaan perusahan yang terbukti membakar lahan beberapa masih beroperasi seakan-akan tidak terjadi apa apa. Bukannya hanya di luar negeri, Malaysia dan Singapur sudah memboikut produk indonesia, mereka tidak mau menerima produk dalam bentuk apapun yang berasal dari Indonesia, tambah traagis lagi bukan.
Namun sampai detik ini juga beberapa pihak terus menyuarakan persoalan asap ini untuk segera dituntaskan agar tahun tahun berikutnya asap tidak kembali melanda negeri ini. Dari tindakan kempanye melalui media masa, media sosial, filem dokumenter hingga turun kejalan dilakoni oleh pihak pihak yang peduli terhadap persoalan asap ini. Minggu 09 Oktober 2015 di Bengkulu ratusan mahasiswa Se-Kota Bengkulu yang meliputi beberapa elemen mahasiswa, BEM, MAPALA, Seniman, OKP, serta aktivis penyelamat lingkungan yang menamakan diri sebagai "GEMA" (Gerakan Bengkulu Melawan Asapp) menggelar aksi di Simpang Lima Kota Bengkulu untuk menyampaikan suara terkait akan asap ini.
Dalam orasi yang disampaikan oleh koordinator aski Bayu Pratama mengatakan bencana yang terjadi saat ini, bukan hanya bencana asap, tetapi sudah bencana kemanusiaan. Sebab sudah banyak manusia khususnya anak-anak yang menjadi korban, akibat ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) yang ditimbulkan oleh asap tersebut. Dalam aksi para demonstran juga menuntut agar pemerintah menindak tegas dengan memberikan hukuman yang tegas kepada para pembakar hutan.
Para demonstran ini sengaja melakukan aksi ini pada hari minggu yang merupakan hari libur bukan karna tidak ada kerjaan, tapi mereka ingin memingatkan, membangunkan para pemerintah supaya tidak tidur, tidak libur agar persoalan asap ini bisa dengan segera bisa terselesaikan dengan baik.
Persoalan asap ini menjadi tugas kita bersama agar tahun depan asap tidak kembali menghantui negara ini. Masyarakat harus peka dan peduli akan lingkungan baik lingkungan abiotik maupun biotik, masyarakat harus cepat tanggap jika ada potensi pembakaran lahan dengan segera bertindak menghubungi instansi terkait agar nantinya bisa di antisipasi. Para mahasiswa juga harus ikut andil sebagai agen of control, mahasiswa harus mingiri kebijakan pemerintah baik daerah maupun pusat, mahasiswa beserta organisasi non pemerintah juga harus mengingatkan para pengambil kebijakan agar kebijakan yang diputuskan untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Dan seluruh pihak harus mengawasi para perusahaan-perusahaan yang ada disetiap daerah yang mengantoi izin, agar kedepan perusahan harus memperhatikan lingkungan untuk tujuan yang sama yang Kesejahteraan Rakyat Indonesia.
HIDUP MAHASISWA...!!! HIDUP RAKYAT INDONESIA...!!! INDONESIA MERDEKA...!!!
Editor : Ola Elveri (M-13137.OG)
MAPETALA UNIB






0 komentar:
Posting Komentar