Mapetala UNIB

Observasi Upaya Pelestarian Penyu TWA Air Hitam

             Penyu merupakan spesies yang telah hidup dari jutaan tahun lalu dan mampu bertahan hingga sekarang. Penyu adalah hewan migran yang mana mereka sering bermigrasi dalam jarak ribuan kilometer antara daerah tempat makan dan tempat bertelur, penyu menghabiskan waktunya di laut akan tetapi induknya akan menuju darat ketika waktunya bertelur, dari 1000 Tukik (sebutan untuk anak penyu) hanya ada 1 yang bertahan hingga dewasa, tingkat keberhasilan hidup penyu sampai dewasa sangat rendah, belum lagi faktor lain yang menyebabkan penyu tidak sampai dewasa yaitu faktor predator yang memangsa baik berupa hewan maupun manusia yang memperdagangkannya.

             Enam dari total tujuh spesies penyu yang hidup di dunia juga berada di perairan Indonesia, yakni penyu tempayan (Caretta caretta), penyu pipih (Natator depresus), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), dan penyu hijau (Chelonia mydas). (The Indian Ocean and South East Asia, 2011 ). Populasi penyu hijau dan beberapa jenis penyu lainnya kian hari kian menyusut. Indonesia memperkirakan setiap tahun sekitar 100.000 ekor penyu hijau dibunuh di kepulauan Indo-Australia. (World Wild Fund, 2009).

             Semakin menurunnya populasi jenis mereka, ini terjadi karena adanya pemburuan liar demi keuntungan pribadi serta tidak adanya upaya pelestarian dari manusia itu sendiri, Undang – Undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya, Peraturan Pemerintah No. 7 tentang Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.menegaskan bahwasanya Dilarang Menangkap, Melukai, Membunuh, Menyimpan, Memelihara, Mengangkut, Memperniagakan satwa, tumbuhan dilindungi dan atau, bagian- bagianya diancam pidana penjara 5 tahun dan denda 100 juta Rupiah. 

             Di Indonesia sudah banyak dilakukan upaya pelestarian baik dari program pemerintah maupun inisiatif dari masyarakat itu sendiri, salah satunya di Bengkulu yang sebagian besar daerahnya pesisir pantai yang terbentang dari Bengkulu bagian Selatan Sampai Bengkulu Bagian Utara, Ini menjadikan Provinsi Bengkulu menjadi salah satu Provinsi yang melakukan upaya pelestarian penyu, salah satunya di Kabupaten Mukomuko Kecamatan Pondok Suguh tepatnya di TWA(Taman Wisata Alam)  Air Hitam.  

            Secara geografis kawasan hutan TWA Air Hitam merupakan satu kesatuan bentang alam yang terletak antara 02030’ – 02058’ LS dan 101022’ – 101026’ BT. Secara administrasi pemerintahan termasuk di wilayah Kecamatan Pondok Suguh Kabupaten Mukomuko Provinsi Bengkulu. Adapun batas-batas wilayah kawasan konservasi adalah sebagai berikut:
  1. Sebelah Barat berbatasan dengan Samudera Indonesia. 
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Air Hitam.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan  Sungai Retak Ilir.
  4. Sebelah Utara berbatasan dengan  Desa Tunggang.
          Berdasarkan wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu, Taman Wisata Alam Air Hitam termasuk wilayah kerja Seksi Konservasi Wilayah I. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:420/Kpts–II/1999 tanggal 15 Juni 1999 tentang Penunjukan  Kawasan Hutan di Wilayah Provinsi Bengkulu, kawasan TWA Air Hitam memiliki luas 433 Ha yang memanjang sejajar pantai sekitar 15 km.

Upaya pelestarian penyu ini berawal dari inisiatip masyarakat yang prihatin akan keberadaan penyu yang sering mendarat ke TWA Air Hitam akan tetapi sering terjadi kejanggalan karena banyak masyarakat sekitar memburu telur maupun penyu itu sendiri, oleh karena itu Organisasi Kelompok Pemuda Pemudi Penggiat Alam dan Lingkungan Hidup (KP3ALH) merupakan organisasi non politik yang mempelopori untuk menyuarakan bahwasanya ekosistem penyu perlu penanganan khusus sehingga dari kelompok ini tergerak untuk melakukan upaya pelestarian dengan cara membuat penangkaran penyu yang nantinya akan dijadikan salah satu bentuk kegiatan guna mencegah terjadinya kepunahan penyu di dunia.

Pada tanggal 14 Mei 2007 Kelompok Pemuda Pemudi Penggiat Alam dan Lingkungan Hidup (KP3ALH) menyatukan visi dan musi terhadap komitmen untuk upaya pelestarian penyu degan terbentuknya kelompok ini harapannya untuk dapat menjaga, melindungi,  Taman Wisata Alam Air Hitam agar dapat menjaga kelestarian habitat yang ada di TWA Air Hitam terutama Upaya pelestarian penyu.


Pelestarian Penyu diawali dengan pemagaran sarang penyu dilokasi penyu bertelur dan pemantauan, dirasa tidak efektif karena masih banyak pemburu telur yg mengincar dan merusak, dibuatlah tempat penetasan telur oleh KP3ALH di pinggir pantai dari bahan batang nibung dan bambu setelah konsultasi dan pembinaan dari BKSDA Resort Mukomuko.

Hasil penetasan telur di tahun 2008 pernah dilepas langsung oleh Bupati Mukomuko sebanyak 420 ekor Tukik (Anak) penyu.

Jenis Penyu yang pernah mendarat di TWA Air Hitam.
NO
SPESIES         (SPECIES)
1
Penyu Lekang = Olive Ridley Turtle (Lepidochelys Olivacea)

2
Penyu Sisik = Hawksbill Turtle (Eretmochelys Imbricata)

3
Penyu Belimbing = Leatherback Turtle (Darmochelys Coriacea)

4
Penyu Tempayan = Loggerhead Turtle (Caretta Caretta

5
Penyu Hijau = Green Turtle (Chelonia Mydas)


 (KP3ALH. 2013)
 
           Dari tahun 2007 sampai dengan 2016, KP3ALH terus berupaya dalam pelestarian penyu dengan metoda survey pendaratan dan bertelur penyu, pemeliharaan tukik penyu dan sosialisasi penyuluhan penyu kepada masyarakat secara swadaya kelompok.
Observasi yang pernah dilakukan oleh Mapetala Unib pada tahun 2014 bersama dengan Kelompok Pemuda Pemudi Penggiat Alam dan Lingkungan Hidup (KP3ALH) melihat dan belajar secara langsung pelestarian penyu dengan metode survey pendaratan, yang mana dalam survey ini sudah di tentukan jadwal tugas masing dari anggota kelompok, pada saat pendaratan penyu itu dapat dilihat dari jejak yang dihasilkan penyu pada saat mendarat dilanjutkan dengan mencari di mana lokasi penyu bertelur ini dapat kita lihat dari jejak akhir penyu yang mendarat biasanya satu sarang penyu menghasilkan paling sedikit kurang lebih 50 butir telur dan paling banyak kurang lebih 100 butir telur.
 

           Melihat dari pengamatan dilapangan selain upaya pelestarian penyu dengan metode semi alami ada banyak upaya yang menjadi sangat penting mengenai kealamian tempat bertelur penyu dengan memberikan penghijauan di kawasan TWA Air Hitam agar kenyamanan penyu bertelur terjamin, begitu juga dengan tempat penyu mencari makan di lautan lepas dengan menjaga laut bersih dari sampah, supaya kedepannya akan lebih banyak lagi penyu yang mendarat di kawasan ini dan yang terpenting adalah bagaimana melibatkan partisipasi nasyarakat tentang kepedulian penyu yang  perlu dilindungi dimulai sejak dini dan menyebar ke setiap lapisan masyarakat.

relokasi sarang telur penyu

Anggota Mapetala Unib sedang merelokasi telur di dampingi oleh anggota KP3ALH

 
Penyu pasca bertelur
Relokasi telur di tempat penangkaran

MAPETALA UNIB | |
Find More Information Here
MAPETALA UNIB
Share on Google Plus

About Unknown

Tanah air Indonesia dengan segala keindahan dan kekayaan alam merupakan tanggung jawab seluruh rakyat indonesia untuk menjaga kelestariannya agar dapat dirasakan juga oleh generasi yang akan datang..
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar