Indonesia : Di Indonesia, sejarah
pendakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat
tertutup Salju di Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah
satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz. Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama
yang dicapai manusia adalah puncak Mont
Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan, Orang Nepal menyebutnya
Sagarmatha atau Chomolungma menurut
orang Tibet. Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui
kerjasama Sir Edmund Hillary dari
Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay
yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itulah pendakian ke
atap-atap dunia pun semakin ramai.
Di Indonesia pada tanggal 18 Oktober
1953 sejarah Pecinta Alam dimulai dari sebuah perkumpulan yaitu Perkumpulan
Pecinta Alam (PPA). PPA merupakan perkumpulan Hobby yang diartikan sebagai suatu kegemaran positif serta suci,
yang terlepas dari sifat maniak yang semata-mata melepaskan nafsunya dalam
corak negatif. Tujuan mereka adalah memperluas serta mempertinggi rasa cinta
terhadap Alam seisinya dalam kalangan anggotanya dan masyarakat umumnya. Sayang
perkumpulan ini tak berumur panjang, penyebabnya antara lain faktor pergolakan
politik dan suasana yang belum terlalu mendukung sehingga akhirnya PPA bubar di
akhir tahun 1960. Awibowo adalah
pendiri satu Perkumpulan Pencinta Alam pertama di tanah air dan mengusulkan
istilah Pencinta Alam karena Cinta lebih dalam maknanya dari pada gemar/suka
yang mengandung makna Eksploitasi
belaka, tapi Cinta mengandung makna mengabdi. Bukankah kita dituntut untuk
mengabdi kepada negeri ini.
Sejarah Pencinta Alam Kampus pada era
tahun 1960-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan
keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan
Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi
Kehidupan Kampus (NKK). Gagasan ini mula – mula dikemukakan Soe Hok Gie pada suatu sore, 8 November
1964, ketika mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) sedang
beristirahat setelah mengadakan kerjabakti di TMP Kalibata. Sebenarnya gagasan
ini seperti yang dikemukakan Soe Hok Gie sendiri, diilhami oleh Organisasi
Pencinta Alam yang didirikan oleh beberapa orang Mahasiswa FSUI pada tanggal 19
Agustus 1964 di Puncak Gunung Pangrango.
Organisasi yang bernama Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam Mandalawangi yang
keanggotaannya tidak terbatas di kalangan Mahasiswa saja. Semua yang berminat
dapat menjadi anggota setelah melalui seleksi yang ketat. Sayangnya organisasi
ini mati pada usianya yang kedua. Pada pertemuan kedua yang diadakan di Unit
III bawah gedung FSUI Rawamangun didepan ruang perpustakaan. Hadir pada saat
itu Herman O. Lantang yang pada saat
itu menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa FSUI. Pada saat itu dicetuskan nama
organisasi Ikatan Mahasiswa Pencinta Alam (IMPALA).
Setelah bertukar pikiran dengan Pembantu
Dekan III bidang Mahalum, yaitu Drs.
Bambang Soemadio dan Drs.
Moendardjito yang ternyata menaruh minat terhadap organisasi tersebut dan
menyarankan agar mengubah nama IMPALA menjadi MAPALA PRAJNAPARAMITA. Alasannya
nama IMPALA terlalu borjuis. Nama ini
diberikan oleh Bpk Moendardjito.
MAPALA merupakan singkatan dari Mahasiswa Pencinta Alam. Dan Prajnaparamita
berarti dewi pengetahuan, selain itu MAPALA juga berarti berbuah atau berhasil.
Jadi dengan menggunakan nama ini diharapkan segala sesuatu yang dilaksanakan
oleh anggotanya akan selalu berhasil berkat lindungan dewi pengetahuan. Ide
pencetusan pada saat itu memang didasari dari faktor politis selain dari hobi
individual pengikutnya, dimaksudkan juga untuk mewadahi para Mahasiswa yang
sudah muak dengan organisasi mahasiswa lain yang sangat berbau politik dan
perkembangannya mempunyai iklim yang tidak sedap dalam hubungannya antar
organisasi. Dalam tulisannya di Bara Eka 13 Maret 1966 Soe Hok Gie mengatakan
bahwa : “Tujuan MAPALA ini adalah mencoba
untuk membangunkan kembali idealisme di kalangan mahasiswa untuk secara jujur
dan benar-benar mencintai Alam, Tanah Air, Rakyat dan Almamaternya. Mereka
adalah sekelompok mahasiswa yang tidak percaya bahwa patriotisme dapat ditanamkan hanya melalui slogan-slogan dan
jendela-jendela mobil. Mereka percaya bahwa dengan mengenal rakyat dan tanah
air Indonesia secara menyeluruh, barulah seseorang dapat menjadi
patriot-patriot yang baik”
Para mahasiswa itu, diawali dengan
berdirinya Mapala Universitas Indonesia, membuang energi mudanya dengan
merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung. Mapala atau Mahasiswa
Pecinta Alam adalah organisasi yang beranggotakan para mahasiswa yang mempunyai
kesamaan minat, kepedulian dan kecintaan dengan alam sekitar dan lingkungan
hidup. Sejak itulah pecinta alam pun merambah tak hanya kampus (Kini, hampir
seluruh perguruan tinggi di Indonesia memiliki mapala baik di tingkat
universitas maupun fakultas hingga jurusan), melainkan ke sekolah sekolah, ke
bilik-bilik rumah ibadah, sudut-sudut perkantoran, lorong-lorong atau
kampung-kampung. Seakan-akan semua yang pernah menjejakkan kaki di puncak
gunung sudah merasa sebagai pecinta alam. (Copy)
“Manusia Bisa
Menaklukkan Kehendak Siapa Saja Yang Ada di Muka Bumi Ini, Namun Manusia Tidak
Bisa Menaklukkan Kehendak Tuhan Dan Menaklukkan Kehendak Alam”
Find More Information Here




0 komentar:
Posting Komentar