Mapetala UNIB

Studi Pemanfaatan Batu Andesit di Bukit Kandis

MAPETALA UNIB| Studi Pemanfaatan Batu Andesit di Bukit Kandis | Di Indonesia ketersediaan sumber daya alam masih sangat melimbah yang mana SDA ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat sekitarnya. Salah satu wilayah yang memiliki SDA yakni Kabupaten Bengkulu Tengah Provinsi Bengkulu. Kabupaten Bengkulu Tengah adalah sebuah kabupaten di provinsi Bengkulu, Indonesia. Ibukotanya adalah Karang Tinggi . kabupaten ini dibentuk berdasarkan undang-undang nomor 24 tahun 2008 yang merupakan pemekaran Kabupaten Bengkulu Tengah secara administrasi termasuk dalam wilayah Provinsi Bengkulu yang terletak antara 101o 32' - 102o 8' BT dan 2o 5' - 4o LS dengan batas sebagai berikut :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Rejang Lebong.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Kepahiang.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Seluma.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan Kotamadya Bengkulu.

Kabupaten Bengkulu Tengah memiliki wilayah bagian Timur yang berbatasan dengan Kabupaten Kepahiang dan sisinya berbukit-bukit dengan ketinggian mencapai 541 DPL. 

Bukit Kandis Kab. Bengkulu Tengah
Secara administratif Bukit Kandis termasuk dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah yang memiliki ketinggian 70 meter dari permukaan tanah dan 200 meter dari permukaan laut/MDPL (bengkulutengahkab.go.id). Bukit Kandis luas areanya adalah 10 Ha dengan cadangan 10 juta m3 batu andesit (wikmapia.org/16472645/bukit-kandis) Menurut regionalinvestment.bkpm.go.id pada tahun 1981/1982 Bukit Kandis mengandung :
Cadangan    : Sumberdaya Tereka 1,000,000 ton
Keterangan  : PT Goesuply Bandung ,1981/1982

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh anggota MAPETALA UNIB maka didapat bahwa masyarakat desa Durian Demang mendominasi sebagai pemecah sekaligus pengumpul batu andesit di Bukit Kandis dengan persentase 70 persen dan sisanya berasal dari desa lain yang berdekatan dengan Bukit Kandis. Hal ini dikarenakan lokasi yang paling dekat dengan Bukit Kandis adalah Desa Durian Demang dengan menempuh perjalanan sekitar 20 menit dari simpang Bukit Kandis dengan berjalan kaki atau dengan menggunakan sepeda motor cukup ditempuh dengan 5 menit saja.

Para Pemecah Batu Andesit
Alat yang digunakan oleh masyarakat untuk memecah batu yaitu alat penokok/martil, linggis, baji/pahat, cangkul, dan pisau, dan pada awal-awalnya PT yang pernah beroperasi pernah menggunakan alat peledak yaitu sejenis dinamit untuk menghancurkan/memecahkan Bukit Kandis yaitu sejak tahun 1985 dan batu yang sudah dihancurkan dikumpulkan oleh masyarakat untuk dijual kepada penampung atau toke yang menggunakan truk untuk mengangkut Batu Andesit menuju tempat penampungan yang terdapat di Bengkulu yaitu Pulau Baai. Para pemecah batu paling banyak menggunakan linggis sebagai alat untuk memecahkan bongkah batu yang masih besar dan kemudian menggunakan martil untuk membuat batu andesit menjadi bagian yang lebih kecil dan dapat langsung dijual sedangkan cangkul digunakan untuk mengumpulkan bongkahan batu andesit yang besar maupun kecil agar menjadi satu bagian yang terkumpul dan kegunaan pahat adalah untuk membelah batu andesit agar terbelah dan menjadi lebih kecil, pahat biasanya dipukul dengan menggunakan martil untuk membelah batu.Jenis batuan andesit yang dikenal oleh masyarakat di sekitar Bukit Kandis disebut dengan Batu Bujang atau Batu Gunung yang dijual kepada penampung yaitu quary pertambangan andesit di Desa Durian Demang kecamatan Karang Tinggi.

Batu Andesit
Para pengumpul batu andesit rata-rata mampu mendapatkan 3 kubik batu per hari jika dalam 1 hari seorang penambang mengumpulkan batu andesit sebanyak 3 kubik dalam 1 bulan 1 orang saja mampu mendapatkan 90 kubik batu andesit sehingga dalam 1 tahun bukit kandis menghasilkan 1.080 kubik dikalikan 100 orang penambang maka akan mampu mendapatkan 108.000 kubik per tahun, dengan jumlah cadangan batu andesit di Bukit Kandis sebanyak 10 juta m3 maka dapat kita hitung yaitu 10.000.000 m3 dibagi dengan 108.000 m3 sehingga didapatkan 92 tahun, karena sudah sejak 27 tahun dilakukan penambangan maka diperkirakan Bukit Kandis akan habis 65 tahun lagi dan kondisi sekarang baru ¼ saja Bukit Kandis yang ditambang.

Harga batu andesit pun beragam mulai dari 40 ribu per kubik sampai 50 ribu per kubiknya tergantung kualitas batu andesitnya, mereka menjual kepada toke yang ada di Desa Durian Demang dan mengangkut batu dengan menggunakan truk.

Sumber : http://tupakmasammapetala.blogspot.com/2013/04/laporan-penelitian-studi-pemanfaatan.html

Share on Google Plus

About Unknown

Tanah air Indonesia dengan segala keindahan dan kekayaan alam merupakan tanggung jawab seluruh rakyat indonesia untuk menjaga kelestariannya agar dapat dirasakan juga oleh generasi yang akan datang..
    Blogger Comment
    Facebook Comment

1 komentar: