Industri pulp dan kertas serta industri kelapa sawit Pulau Sumatera menjadikan wilayah ini sebagai deforestasi hutan terparah di dunia. Yang menyebabkan salah satu populasi gajah berkurang lebih cepat begitu juga dengan habitatnya.
Dengan adanya penyusutan ini tentu memaksa mereka (gajah) masuk ke kawasan penduduk sehingga memicu konflik antara manusia dengan gajah semakin hari semakin memuncak seperti yang terjadi di Negara India.
Dengan perubahan hutan menjadi perkebunan sawit menjadi ancaman tersendiri bagi Gajah tidak hanya dengan penyusutan habitatnya akan tetapi dengan adanya keberadaan Gajah yang sangat suka memakan pohon sawit muda sehingga membuat kerusakan pohon sawit yang ditimbulkan Gajah, oleh karena itu tidak jarang Gajah yang dianggap menggangu ini dibunuh bahkan diracun. (WWF Indonesia)
Konflik Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis) dengan manusia sepanjang tahun 2012 di Propinsi Bengkulu semakin meningkat. Berdasarkan hasil temuan Tim Patroli TNKS dan BKSDA Bengkulu sepanjang tahun 2012, maka terdapat 19 titik sebaran konflik gajah dan manusia yang berada di Kabupaten Mukomuko dan Kabupaten Bengkulu Utara. (Mongabay.com)
Berdasarkan data ProFauna, dari tahun 2004 hingga 2010 di propinsi Bengkulu , khususnya di sekitar kawasan Air-Seblat telah tercatat 10 ekor gajah mati tanpa pengusutan lebih jauh tentang para pelakunya.
400-600 pon makanan tiap hari dibutuhkan bagi satu ekor Gajah Dewasa dengan areal jelajah hingga 400 hektar untuk seumur hidupnya. Konversi habitat gajah dari hutan menjadi perkebunan sawit dan areal pertambangan batubara menyebabkan semakin sempitnya habitat Gajah sehingga banyak kelompok kelompok gajah yang hidup dalam lingkarang perkebunan, pemukiman bahkan pertambangan Batubara.

0 komentar:
Posting Komentar